TUBBA’ AL AWWAL
Beriman kepada nabi Muhammad seribu tahun sebelum munculnya
TUBBA’ adalah sebutan bagi raja-raja Yaman pada masa dahulu kala. Mereka yang bergelar
Tubba’ ini banyak dan mereka adalah orang Arab. Nama Muhammad yang akan
menjadi penutup para nabi dan rasul sudah sangat populer dikalangan
para nabi terdahulu. Keberadaannya sebagai nabi penutup tercatat dalam
kitab-kitab lama. Tubba’ (raja Yaman) yang pertama memiliki kisah
menarik untuk kita simak dan kita jadikan pelajaran tentang
perkenalannya dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Suatu
ketika Tubba’ keluar dari negerinya dengan membawa ratusan ribu
perajurit dan didampingi perdana menterinya menuju kota Makkah al
Mukarramah, di samping ratusan ribu perajurit ia juga membawa seratus
ribu orang alim dan bijak yang ia pilih dari beberapa negara bagian
yang berada di bawah kekuasaannya. Ketika Tubba’ dan pasukannya tiba di kota Makkah ia
bertanya tentang penduduk Makkah, lalu dikatakan kepadanya bahwa penduduk Makkah
menyembah berhala (Pagan) dan mereka memiliki ka’bah yang sangat mereka cintai.
Ketika mendengar itu, Tubba’ bertekad dalam hatinya untuk menghancurkan
ka’bah dan membunuh penduduk Makkah yang tidak menyambut kedatangannya
dan ia tidak
memberitahukan niat jahatnya ini kepada siapapun. Tiba-tiba ia merasakan pusing yang
sangat menyakitkan, dan dari kedua matanya, telinganya, hidungnya dan mulutnya tiba-tiba
keluar air yang berbau sangat busuk. Karena bau yang begitu busuk ini
semua perajuritnya lari menjauhinya. Akhirnya sang perdana menteri
mengumpulkan para dokter untuk mengobatinya namun tidak satu dokterpun
yang sanggup mendekatinya apalagi mengobatinya. Pada suatu malam ada
seorang ulama datang menghampiri
perdana menteri, ia mengaku mungkin
bisa mengetahui sebab penyakit yang diderita sang raja dan ia tahu cara
mengobatinya. Kemudian sang perdana menteri gembira dan langsung
membawa orang alim tersebut menemui sang raja dan mengobatinya. Orang
alim itu berkata kepada sang raja: Berkatalah jujur kepadaku! Apakah
engkau punya niat jelek terhadap Ka’bah ini?, sang raja menjawab: “ya,
saya punya niat merobohkan ka’bah ini dan membunuh penduduknya”. Orang
alim itu berkata lagi: Sesungguhnya penyakit yang
menimpa kamu ini
berasal dari niat jelek kamu terhadap ka’bah, ketahuilah bahwa ka’bah
ini ada penguasanya, Ia maha kuat dan maha tahu atas segala sesuatu yang
tersembunyi dan rahasia”. Kemudian orang alim –yang merupakan pengikut
Nabi Ibrahim- itu mengajarinya agama Islam. Sang rajapun mengimaninya
seketika itu dan seketika
itu juga ia sembuh dari penyakitnya dan ia-pun memuliakan penduduk Makkah.
Kemudian ia menuju Madinah –Yatsrib- dan sesampainya ia di kota
tersebut empat ratus orang alim yang ikut dengannya berniat untuk tetap
tinggal di kota Madinah. Sang raja bertanya kepada mereka: “Kenapa
kalian ingin tinggal dikota ini?”, mereka menjawab: “Kota inilah tempat
hijrahnya Nabi akhir zaman yaitu Muhammad
shallallahu ‘alayhi wasallam” dan mereka menjelaskan kepada sang raja sosok Muhammad
yang akan menjadi nabi akhir zaman tersebut sebagaimana mereka dapatkan
ciri-cirinya dalam kitab-kitab terdahulu. Setelah mendengar cerita
tentang Muhammad sang rajapun berminat tinggal bersama mereka di Madinah
selama satu tahun dengan harapan ia bisa berjumpa dengan Muhammad. Ia
membangun empat ratus rumah yang diperuntukkan bagi masing-masing orang
alim yang tinggal di sana bahkan sang raja mengawinkan mereka. Setelah
satu tahun berlalu sang nabi yang ia tunggu-tunggu belum juga muncul, ia
menulis sebuah kitab yang disebutkan di dalamnya bahwa ia beriman
kepada sang nabi
sebelum melihatnya dan ia memeluk agama yang dibawa
oleh sang nabi dan beriman kepada Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, dan
tiada sesuatu-pun
yang menyerupai-Nya. Lalu ia cap kitab itu dengan emas dan dititipkan kepada orang-orang
alim yang tinggal di kota itu untuk selamanya. Sang raja kemudian meninggalkan Madinah
menuju India dan meninggal di sana. Kitab yang ia tulis setelah
penantiannya terhadap nabi yang mulia di kota Madinah tersebut tetap
terpelihara meskipun berpindah-pindah tangan sampai kemudian muncul nabi
Muhammad setelah seribu tahun dari ditulisnya kitab tersebut. Dikatakan
bahwa kitab itu sampai ke tangan Nabi ketika
beliau menempati rumah Abu Ayyub al Anshari radhiyallahu ‘anhu saat permulaan hijrah beliau ke Madinah.
download bukunya :
http://darulfatwa.org.au/…/Indo…/Al-Islam_Deenul_Anbiya2.pdf