Jumat, 02 Oktober 2015

ALIF DALAM HIJAIYAH PERJALANANKU (COPAS)

http://halimahalaydrus.blogspot.co.id/2011/03/alif-dalam-hijaiyah-perjalananku.html


Lelaki tua itu kutemu dalam jejak langkah takdirku menelusuri masa, 
di tahun-tahun pertama pesantrenku di bagian timur daerah jawa. 
Kakak lelakiku yang entah dengar tentang dia dari siapa membawaku menemuinya 
di sebuah rumah tua sederhana yang tak kuingat benar di mana tepatnya ia berada.

"Dia itu seorang wali"  Kata kakakku di perjalanan menuju rumah itu

"Wali itu apa, kak?" Tanyaku tak mengerti

"Orang yang punya keramat, begitulah.." Jawabnya singkat saja

"Keramat itu apa, kak?" Tanyaku masih tak mengerti

"Bisa melakukan yang orang biasa tidak bisa melakukannya"

"Seperti apa, kak?" Tanyaku lagi

"Seperti mengetahui masa depan seseorang"

"Kayak dukun ya, kak?" Kataku sok mengerti


"Bukan, bukan dukun... Kalau dukun itu dibantu jin atau syetan. Kalau wali itu diberi kelebihan oleh Allah"


"Owh..." Aku berusaha mengerti.

"Tapi dari mana kita tahu kalau kelebihannya itu dari Allah dan bukan dibantu jin atau syetan, kak?" Tanyaku lagi

"Hmmm.. Ya... Aku juga tidak tahu.." Jawabnya mulai bingung

"Setidaknya begitu yang aku dengar dari banyak orang, dia itu wali yang zuhud!"

"Zuhud itu apa kak?" Tanyaku  lagi

"Orang yang menolak dunia, begitulah" Jawabnya yang sepertinya juga  tak cukup mengerti.

Kabarnya dulu dia pernah dihadiahi bupati uang satu koper penuh karena menyembuhkan anak gadisnya dari penyakit gila. Namun uang sekoper tersebut hangus jadi abu karena dia menyulutkan pemantik api dihadapan si bupati. Seraya berkata:

"Uang rakyat yang kau pakai untuk kepentinganmu sendiri hanya akan membawamu kepada api".

 

Sejak itu orang-orang bilang bahwa dia itu wali yang zuhud"

"Oowh.. Seperti wali-wali songo zaman dulu itu ya, kak? Yang menyebarkan agama islam dan menolak upeti-upeti dari penguasa?"

Kakakku mengangguk.

"Dan dia itu aneh.." Tambahnya lagi

Giliran aku kini yang mengangguk. Bukan karena aku mengerti keanehannya tapi setidaknya itu adalah satu-satunya kata yang aku tahu benar artinya. Dan juga kudapati kebenarannya ketika aku sudah berada di rumah sederhana bertembok bambu itu.

Seorang lelaki tua yang aneh..

Tepat seperti itu aku menilainya sebab dia berkemeja rapi bahkan memakai jas tapi baju bagian bawahnya sarung lusuh, berpeci putih bersih tapi rambutnya terlihat kelabu dan awut-awutan panjang sebahu, dan sepertinya dia tak pernah mengenakan sandal hingga kakinya kulihat sangat berdebu.

Kakakku mengajaknya bicara entah apa, aku tak tertarik mendengarkannya sebab aku sibuk sendiri dengan pemikiran dan penilaian-penilaianku tentang dirinya. Aku pandangi lelaki tua itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Sebuah perpaduan paling aneh yang pernah kulihat untuk penampilan seorang kyai.

Kyai??

Ya, begitulah..

Meski tak tepat betul penyebutannya sebagai seorang kyai, sebab orang seaneh itu tak bisa kubayangkan memiliki santri, tapi kakakku memanggilnya begitu, dan aku tanpa berani protes mengikuti jejaknya.

Lalu tiba-tiba

"K a m u.....!!!!" Ujar lelaki tua itu memanggilku sambil matanya menatapku sungguh-sungguh. Membuyarkan pikiranku dari semua lamunan dan membuatku terjebak antara ketakutan dan kebingungan.

"Kamu suka belajar agama islam, ya?" Tanyanya.

Akupun mengangguk.

Dan diapun kini menatapku dari atas kerudung sampai kaos kakiku. Membuatku jadi salah tingkah dan serba salah.

Lantas dia berkata tanpa kutanya :

"Kamu akan belajar agama islam dari orang nomor satu di dunia"

mendengar ucapannya yang tak terduga aku merasa aneh tapi juga bahagia, takut tapi juga senang luar biasa.

Belajar islam dari orang nomor satu di dunia? Wow.. Hebat sekali kedengarannya. Meski tak yakin benar dengan yang kudengar tentangnya tapi apa yang dia ucapkan ingin aku percaya. 

Belajar islam dari orang no satu di dunia ??.



Waaaah hebat sekali, bukan??..


Siapakah gerangan dirinya dan dimanakah dia berada?

Pikiran kecilku kala itu tak henti-hentinya berpikir sendiri. Hingga langkah kakiku menjauh dari rumah itu, aku masih saja memikirkan ucapannya.


Dan sejak hari itu aku menunggu..


Menunggu sesuatu dalam hidupku...


Sesuatu yang aku mau..


Belajar dari orang nomor satu..


Hingga disinilah aku..


Tujuh tahun berselang dari waktu itu...

===============BERSAMBUNG======================

kalam Ustadzah Halimah Al Aydrus di bulan Maulid

Aku cemburu..
Bahkan kepada dinding tempat kau sandarkan punggungmu
atau terompah yang mengiringi langkah kakimu.
Andai dulu aku yang menggantikan keduanya..
untukmu...

kelahiranmu adalah lahirnya kebaikan, lahirnya jalan petunjuk, lahirnya iman, lahirnya islam, lahirnya makrifat, lahirnya hidayah, lahirnya rahmat Allah, lahirnya cinta-Nya, lahirnya syurga... untuk kami, umatmu...
kasihnya dekat tak bersekat
cintanya nyata dan senantiasa
rahmat dihatinya adalah karunia terindah
yang Allah hadiahkan untuk kita..
ya Allah.. di bulan kelahirannya, gemakan namanya di seluruh ruang hati kami..

KATA BIJAK UNTUK PARA IBU (COPAS)

http://halimahalaydrus.blogspot.co.id/2011/01/kata-bijak-untuk-para-ibu.html

Jika anak dibesarkan dalam kecaman, ia akan belajar menyalahkan
Jika anak dibesarkan dalam permusuhan, ia akan belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dalam ketakutan, ia akan menjadi penakut di masa depan
Jika anak dibesarkan dalam belas kasihan, ia akan belajar menyesali dirinya
Jika anak dibesarkan dalam olok-olokan, ia akan menjadi pemalu
Jika anak dibesarkan dalam kecemburuan, ia akan belajar iri hati
Jika anak dibesarkan dalam aib, ia akan belajar merasa bersalah


Jika anak dibesarkan dalam toleransi, ia akan belajar bersabar
Jika anak dibesarkan dalam dorongan, ia akan belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dalam pujian, ia akan belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dalam restu dan persetujuan, ia akan belajar menyukai dirinya
Jika anak dibesarkan dalam penghargaan, ia akan belajar memiliki cita-cita
Jika anak dibesarkan dalam suasana saling memberi, ia akan belajar murah hati
Jiak anak dibesarkan dalam kejujuran dan keadilan, ia akan belajar kebenaran dan keadilan
Jika anak dibesarkan dalam rasa aman, ia akan belajar mempercayai orang-orang sekitar
Jika anak dibesarkan dalam persahabatan, ia akan mengetahui bahwa hidup ini menyenangkan
Jika anak dibesarkan dalam ketentraman, ia akan belajar memiliki pikiran yang damai

Wahai ibu...
Dalam keadaan bagaimanakah anakmu dibesarkan??


( Dorothy L. Notle, "Hikmah dari Seberang" )

AWAS WAS-WAS (COPAS)

http://halimahalaydrus.blogspot.co.id/2010/12/awas-was-was.html
Seseorang di majelisku beberapa hari yang lalu bertanya tentang was-was dan cara untuk menyembuhkannya. Yang dia maksud dengan was-was adalah adanya bisikan-bisikan disaat dia melaksanakan sebuah ibadah. Bisikan itu mengatakan bahwa apa yang dilakukan tidaklah sempurna atau malah tidak sah atau membuatnya ragu apakah dia sudah melakukannnya atau belum? Misalnya disaat dia telah hampir selesai berwudhu dia ragu-ragu apakah wudhunya itu sudah diawali dengan niat atau belum, dan untuk meyakinkan dirinya, seringkali dia mengulang kembali wudhunya sehingga untuk sekedar berwudhu dia membutuhkan waktu berpuluh menit lamanya, demikian katanya.
Saya menjawab pertanyaan tersebut dengan menukil jawaban dari beberapa ulama. Saya juga ingat bahwa beberapa teman di pondok pesantren dulu banyak yang terganggu dengan penyakit ini dan tentu saja  mengganggu orang lain pula. Lebih daripada itu penyakit satu ini obatnya tidak akan ditemui di apotek padahal membiarkannya berlarut menjadikan was-was semakin menguasai hati seseorang. Jadi kiranya perlu untuk saya tuliskan metode pengobatannya disini hingga jika ada diantara saudara-saudaraku yang membacanya merasa terkena penyakit ini dia tahu bagaimana menghadapinya, dan bagi yang lain diharapkan bisa belajar untuk mencegahnya. Bukankah mencegah itu lebih baik daripada mengobati?


Baiklah, Untuk mulai membahas hal ini kita akan memulai dengan pertanyaan:
Apakah sebenarnya was-was itu?
Was-was adalah bisikan syeitan, dia berharap dengan bisikan tersebut orang jadi malas melakukan ibadah atau malah justru meninggalkannya.
Ibnu Abbas RA berkata: “ Was-was adalah penyakit orang mukmin.”
Yang dari ucapan beliau kita bisa menyimpulkan 2 hal:
1-     Hanya orang mukmin yang bisa terkena penyakit ini, maka jika engkau mulai diganggu dengan bisikan-bisikan tersebut jangan larut dalam kesedihan apalagi putus asa. Justru bolehlah sedikit berbangga sebab artinya engkau adalah seorang mukmin. Karena tentunya orang yang tidak ada iman di hatinya tidak akan peduli terhadap keabsahan ibadah apalagi kesempurnaannya.

2-     Was-was itu penyakit dan selayak penyakit apapun bentuknya ia harus diobati, betul bahwa ia adalah tanda keimanan tapi membiarkannya merusak ibadahmu menjadikan keimananmu tidak meningkat-meningkat akhirnya.

Bagaimana mengobatinya?
Allah SWT berfirman dalam surat An-Nas
"Katakanlah aku berlindung kepada Tuhannya manusia (1) Pencipta manusia (2) Pemelihara manusia (3) Dari kejahatan bisikan syeitan yang suka bersembunyi (4) Dia berbisik dalam dada manusia (5) Dari golongan jin dan manusia (6)"
Dari ayat diatas kita bisa menyimpulkan bahwa was-was itu sumbernya dari syeitan dan Iman Ghozali dalam minhajnya mengatakan beberapa teori untuk menghadapi kejahatan syeitan:
1-     Lawan, jangan dengarkan apalagi ikuti.

Jika syeitan mengatakan bahwa kita belum takbir katakan padanya saya sudah melakukannya. Jika dia mengatakan engkau belum berniat katakan padanya niat itu tempatnya di hati dan tak ada yang tahu isi hati kita kecuali Allah, jika dia mengatakan pakaian kita kena najis katakan padanya aku tidak melihat ataupun menciumnya dan kita lebih percaya kepada mata dan hidung kita daripada kepadanya. Sebab syeitan meski terdengar semanis apapun bisikannya tak ada tujuan baginya kecuali menyesatkan.

           Nabi Muhammad SAW bersabda dalam haditsnya:
“Tatkala seseorang diantara kalian tengah duduk dalam sholat, Syeitan seringkali meniup bagian bawah tubuhnya (seolah ada yang angin yang keluar darinya), apabila terjadi yang demikian maka janganlah keluar dari sholatnya kecuali jika telah benar-benar mencium baunya atau mendengar suaranya“
Cobalah baca cerita yang saya nukil dari kitab i’anatut tholibin susunan Abu bakar Syato di bab thoharoh di bawah ini:

“Suatu ketika seseorang datang kepada seorang alim ulama pakar tata bahasa arab yaitu Imam Ibnu Malik, dan dia berkata padanya:

“Wahai Imam, aku dengar bahwa seseorang tatkala pengetahuannya terhadap satu bidang ilmu telah seperti lautan berarti dia telah menguasai seluruh bidang ilmu yang lainnya, apakah itu benar?

Ibnu malik menjawab: “Ya, memang begitulah adanya, sebab ilmu itu saling berkait antara satu dengan lainnya.”

Penanya:  “Engkau adalah seseorang yang pengetahuan agama dari segi tata bahasa arabnya telah kau kuasai dengan benar aku akan bertanya padamu tentang ilmu fiqih, selama ini di saat berwudhu  aku seringkali merasa ragu-ragu apakah aku telah niat, atau membasuh muka sehingga aku mengulang wudhuku kembali, dan ketika aku sholat aku seringkali  ragu apakah aku sudah takbirotul ihram tadi atau apakah aku sudah membaca surat Alfatihah? Sehingga aku mengulang kembali sholatku bahkan sampai berkali-kali. Menurutmu apa yang harus aku lakukan?”

Imam ibnu malik : “Jadi engkau membasuh muka, membasuh tangan, mengusap kepala kemudian kamu merasa bahwa kamu belum membasuh muka? Atau kamu sholat, takbir, membaca Alfatihah, ruku’ dan seterusnya kemudian di waktu sujud kamu merasa sepertinya kamu belum membaca surat Alfatihah?“

Penanya: “ Kira2 begitu”

Imam Ibnu Malik: “ Kalau begitu kamu boleh meninggalkan wudhu dan sholat, ia tidak wajib lagi atasmu”

Penanya: “Kenapa bisa begitu, imam?”

Imam Ibnu Malik: “Ya, sebab orang yang sudah takbir tapi merasa belum takbir, sudah berwudhu tapi merasa belum membasuh muka itu adalah orang yang tidak waras dan orang gila tidak lagi diwajibkan melakukan sholat”

Penanya: “ ???????....... ”

Sejak saat itu dia tidak pernah lagi mengikuti was-wasnya sebab dia tidak mau menjadi  gila.


2-     Ikutilah pendapat ulama yang berpendapat ringan dalam masalah tersebut.

Jika was-was yang dialami adalah dalam permasalahan fiqih seperti wudhu, sholat, puasa dan lainnya maka sebaiknya ikutilah pendapat yang ringan dalam masalah tersebut. Sebab was-was yang merupakan penyakit hati pengobatannya sama dengan penyakit badan. Ia membutuhkan sesuatu yang berlawanan dengan yang dia alami. Orang yang kena panas tinggi diobati dengan didinginkan badannya, dan yang kena kurang darah diberi suplemen penambah darah untuk menstabilkannya. Maka, jika seseorang was-was dalam masalah niat misalnya dia bisa mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah yang mengatakan bahwa niat itu tidak wajib, maka mengingat pendapat yang berat dalam suatu permasalahan bagi orang yang was-was dalam masalah tersebut sama saja dengan menambahkan gula di makanan orang yang mengidap dibetes.

Cobalah baca kisah yang pernah diceritakan guru saya dibawah ini:

Datang seseorang kepada seorang alim ulama terkemuka pada zamannya yaitu Habib Abdurrahman Al Masyhur (seorang Mufti Hadromaut sekaligus pengarang kitab Bughyatul Mustarsyidin) dia mengadu kepada beliau atas penyakit was-wasnya terhadap najis yang sudah sangat mengganggu sehingga membuatnya selalu mengganti pakaian setiap akan mengerjakan sholat karena merasa bahwa pakaian yang dikenakannya berkemungkinan terkena najis, dan karena ada kemungkinan najis itu juga mengenai badannya dia memutuskan untuk mandi sebelum wudhunya.
Habib Abdurrahman tidak menjawab keluhannya akan tetapi mengajaknya menuju masjid tatkala adzan berkumandang, beliau hanya menanyakan tentang satu hal:
“Kamu yakin bahwa saya adalah gurumu yang tidak akan memutuskan sesuatu kecuali dengan panduan ilmu?”
Orang itupun mengangguk dengan pasti.
Di tengah perjalanan mereka, mereka mendapati seekor kambing yang sedang mengeluarkan kotoran, orang itupun berusaha menjauh sebisa mungkin, akan tetapi sang guru justru menghentikan langkah dan malah menyuruhnya untuk mengambil kotoran tersebut dengan tangannya dan meletakkannya di saku baju yang tengah dia kenakan, seraya berkata:

“Ada di antara ulama yang bermadzhab syafi’ie yang mengatakan bahwa kotoran dari binatang ternak yang boleh dimakan dagingnya adalah suci“

Orang itu menuruti ucapan gurunya meletakkan kotoran di sakunya dan berangkat sholat dengan pakaian tersebut. Sejak hari itu sembuhlah penyakit was wasnya.

3-     Mohonlah perlindungan kepada Allah dari godaan syeitan.

Sebab hanya Dialah sumber kekuatan kita, dan tatkala hati kita mengingatNya itu adalah senjata terbesar untuk kita mengalahkan musuh manapun.
Nabi Muhammad SAW  mengatakan tentang tafsir dari surat An-Nas ayat 4
(Dari kejahatan bisikan syeitan yang suka bersembunyi):
" Syeitan bersembunyi tatkala seseorang mengingat Allah SWT dan dia akan menguasai tatkala orang tersebut lupa kepada Allah SWT "

Maka setiap was-was itu datang konsentrasikan pikiranmu mengingat Allah dan mohonlah agar Dia menjagamu dari godaan syeitan. Kemudian lihatlah bahwa bisikan-bisikan itu akan berkurang.

Jika tiga hal di atas ini selalu kau lakukan setiap kali was-wasmu datang akan ada waktu dimana was-was hanya akan menjadi masa lalu.
Sehingga barangkali kalau nanti ada seseorang bertanya kepadamu: “Pernah kena was-was?“
Kamu akan berkata: “Sudah lupa tuh... “





ANTARA PENGORBANAN DAN CINTA (COPAS)

http://halimahalaydrus.blogspot.co.id/2010/11/antara-pengorbanan-dan-cinta.html


Kata adha dalam kalimat idul adha yang digunakan untuk menamai hari besar islam tanggal 10 Dzulhijjah berasal dari bentuk kata adha yudhi udhiyatan yang artinya adalah berkorban, maka idul adha jika diterjemahkan dalam bahasa kita artinya adalah hari raya korban PENGORBANAN. Maknanya hari tersebut merupakan hari dimana umat islam yang merayakannya melakukan sebuah pengorbanan.
“Pengorbanan apa?“
Itulah pertanyaan yang masing-masing dari kita silahkan menjawabnya..

10 Dzulhijjah dinamai dengan idul adha bermula dari kisah yang sering kita dengar dimana Nabi Ibrahim AS mengorbankan putera tercintanya Ismail AS dan menyembelihnya karena Allah SWT. Seperti yang diceritakan di dalam Alquran. Selanjutnya umat manusia diharapkan mengingat momen tersebut dengan saling menanyai diri sendiri :
“Jika Nabi Ibrahim AS mengorbankan jiwa puteranya untuk Allah swt, maka apa yang sudah aku korbankan untuk-Nya?“
Namun sebelum kita bahas lebih jauh tentang jawaban dari pertanyaan tersebut, ada baiknya jika kita bahas lebih dulu tentang arti berkorban itu sendiri.
Saya kesulitan utuk mendefinisikan arti berkorban, namun barangkali kurang lebihnya begini :
“Berkorban adalah memilih untuk memberikan sesuatu yang berharga yang dimiliki oleh seseorang kepada yang lain“
Dari pengertian ini maka dapat disimpulkan bahwa orang yang terpaksa harus kehilangan anggota tubuhnya karena kebakaran misalnya tidaklah dikatakan berkorban tapi dikatakan mendapat sebuah musibah sebab dia tidak memilih.
Dan perbedaan antara berkorban dengan sekedar berbuat baik ada pada “sesuatu yang berharga“ yang saya sebutkan diatas. Lihat saja bahwa jika ada orang kaya memberi sedekah nasi bungkus kepada seorang tukang sampah misalnya dia hanya disebut berbuat baik namun tidak dikatakan berkorban sebab apa yang dia berikannya kepada tukang sampah tersebut bukanlah sesuatu yang berharga untuk dirinya setidaknya jika dibandingkan dengan apa yang dimilikinya. Namun jika si tukang sampah yang sebenarnya tengah kelaparan itu memberikan nasi bungkusnya kepada seorang gelandangan tua yang dia pikir lebih lemah dari dirinya misalnya kita membahasakan bahwa orang tersebut telah mengorbankan makanannya demi orang lain karena sebungkus nasi untuk si miskin adalah sesuatu yang berharga mengingat tak selalu ada untuk setiap harinya.
Maka objek atau sasaran berkorban adalah “sesuatu yang berharga” yang dimiliki oleh seseorang, dan berharga bagi tiap orang adalah berbeda, ia bisa jadi tidak sama. Relatif dan bergantung.
“Bergantung apa?“
Ini jugalah pertanyaan yang timbul dalam benak saya. Dan saya cukup lama memikirkan hal ini, hingga mendapatkan kesimpulan yang semoga selalu dalam jalan yang benar.
Sesuatu yang berharga bagi seseorang bukan bergantung dari seberapa banyak sesuatu tersebut dimiliki olehnya, meskipun tentu saja nyawa yag karena cuma satu lebih berharga dari pada nafas yang seringkali dimiliki seseorang dalam jumlah yang banyak.  
Sesuatu menjadi berharga bagi seseorang bergantung dari seberapa hatinya menCINTAI sesuatu tersebut. Karenanya kita melihat seorang ibu akan menangis histeris atas kematian anaknya meski sebanyak apapun jumlah anak yang dimilikinya.
Ya, sesuatu menjadi berharga karena ia dicinta. Semakin dalam cinta seseorang kepada sesuatu semakin takut ia kehilangan dan semakin berat ia melepaskannya dari kepemilikan. Dan ketika suatu saat dia memilih untuk memberikannya kepada orang lain disanalah sebuah pengorbanan telah diperjuangkan.
Berdasarkan inilah para pecinta Allah SWT mengorbankan apapun yang mereka miliki yang sejatinya mereka cintai untuk membuktikan cinta mereka kepada Allah SWT.
Dalam Alquran Allah SWT berfirman :
“Dan orang-orang yang beriman cinta mereka kepada Allah luar biasa besar“
Mereka korbankan harta mereka, pekerjaan mereka, kehidupan mereka bahkan nyawa mereka demi cinta kepada Allah SWT. Lihatlah para sahabat Nabi yang rela gugur di medan pertempuran, lihat shodaqoh Abu Bakar RA tatkala Nabi membutuhkan bekal dalam sebuah peperangan, dia membawa seluruh hartanya di hadapan Nabi dan menyerahkannya kepada beliau tanpa menyisakan apapun untuk dirinya sendiri, lihat pula para sahabat Muhajirin yang meninggalkan rumah, harta dan pekerjaan mereka di Mekkah untuk ikut serta hijrah ke Madinah bersama Nabi Muhammad SAW.
Inilah pengorbanan..
Dan kita kini berada di bulannya, bulan PENGORBANAN, bulan yang didalamnya kita dituntut mengingat maknanya.
Apa yang sudah kita korbankan dalam hidup kita untuk menerjemahkan makna cinta kita kepada Allah SWT?
Allah SWT  menanti pengorbanan kita..
Karenanya mari kita mulai belajar berkorban.
Saya katakan belajar sebab pengorbanan-pengorbanan besar selalu diawali dengan yang kecil, dan pengorbanan sekecil apapun butuh pelatihan diri untuk melakukannya.
Kita tentu tak akan mulai dengan pengorbanan nyawa kita, seluruh harta kita, atau seluruh kesenangan kita. Tapi setidaknya kita bisa mulai menyisihkan sebagian dari waktu tidur kita untuk tahajjud, mengorbankan sedikit dari pakaian di lemari kita untuk kita korban bencana alam, mengorbankan kenyamanan tubuh kita dengan berpanas-panas menutupi auratnya, mengorbankan sebagian akal dan pikiran kita untuk memikirkan ilmu agama-Nya, mengorbankan rasa kantuk, rasa bosan, rasa sebal, rasa marah untuk mencari keridhoan-Nya, mengorbankan kesenangan kita demi mencari cinta-Nya.
Memahami hal ini maka makna berkorban adalah :
Memilih untuk memberi yang kita cinta kepada yang kita cinta karena cinta
Berkorban adalah pembuktian cinta. Dan jika cintamu sudah terbukti, ia tinggal menunggu balasan..  Dari Dia yang tak pernah mengecewakan pecintaNya..

( SELAMAT IDUL ADHA DAN SELAMAT BERKORBAN )





KAMUKAH DIA ?? (COPAS)

http://halimahalaydrus.blogspot.co.id/2010/11/kamukah-dia.html

Kamukah orangnya itu?
Yang apabila ditanya :

"Apa saja kegiatanmu sekarang?"

Dia akan menjawab :

"Aku sedang sibuk benahi hati,
koreksi nurani,
meletakkan sesuatu sesuai posisi,
dan membuang yang tidak penting sama sekali"

Atau

"Aku sedang menata langkah,
perbaiki tingkah,
agar tak lagi jatuh ke lubang salah"

Atau

"Aku sedang merunduk dalam,
terpekur sujud,
mengangkat tengadah doa
mencari-cari cinta-Nya"

Jika kamu adalah dia itu,
kuucap "SELAMAT" tak terbilang
sebab berarti kamu telah masuk
dalam kotak "HAMBA YANG DIINGINKAN"
oleh Allah Sang Tuhan..

SA'AD BIN ROBIE' (COPAS)

http://halimahalaydrus.blogspot.co.id/2010/10/saad-bin-robie.html




(Hari Uhud beberapa saat setelah kekalahan terjadi atas pasukan islam)


Diantara tubuh yang bergelimpangan. Darah merah segar mengalir dari luka-luka akibat sayatan pedang atau tusukan panah. Wajah-wajah sahabat yang selamat terlihat kecewa dan terluka.
Nabi Muhammad SAW duduk dengan luka parah di dahinya sementara dua giginya tanggal akibat pukulan seorang tentara musuh. Tiba-tiba ingatan tentang seseorang membuatnya berdiri dan berujar lantang:
"Wahai sahabatku sekalian! Adakah seseorang mau mencarikan untukku Sa’ad bin Robie’ masih hidupkah ia ataukah sudah tiada?"
Berdiri seorang sahabat anshor :
"Aku akan melakukannya untukmu, ya RosulAllah.."
Diapun segera menelusuri tubuh-tubuh yang bergeletakan di tanah pegunungan Uhud. Bau amis darah tercium disana sini. Dibaliknya beberapa tubuh yang tengkurap dan berusaha mengenali wajah mereka sebab darah dan tanah yang bercampur jadi satu membuat sebagian wajah tak mampu lagi dikenali.
Dia mendapati Sa’ad bin Robie’ diantara mereka dan panah menancap di dadanya. Dipegangnya pergelangan tangannya untuk merasakan denyut nadi dan dia merasakan masih ada sisa nafas yang tersisa.
"Kawan, aku diperintahkan RosulAllah Muhammad SAW untuk melihat keadaanmu masih hidupkah engkau ataukah telah mati?"
Mendengar nama Rosul disebut, mata Sa’ad mengerjap dan lirih diucapkan kata-kata ini:
"Aku akan segera mati. Namun sampaikan salamku kepada RosulAllah katakan padanya: Semoga Allah membalas beliau dengan sebaik-sebaik balasan yang diberikanNya untuk seorang nabi atas kebaikan dan pengorbanan kepada umatnya."
Ditahannya rasa sakit sambil memegang dadanya dan dengan susah payah ia berujar kembali:
"Dan sampaikan pula salamku kepada seluruh umat ini katakan kepada mereka bahwa  Sa’ad bin Robie’ berpesan: Jangan pernah kalian biarkan sesuatu terjadi kepada RosulAllah SAW sementara kalian masih memiliki mata yang mampu berkedip."
Dan tewaslah Sa’ad sesudah mengucapkan kalimat itu
Sahabat anshor itupun segera menyampaikan keadaan dan perkataan Sa’ad kepada RosulAllah. Beliau terdiam sejenak lantas mendoakan Sa’ad:
"Ya Allah.. Sayangilah dia.. Karena dia selalu memberi nasehat dan mengajak umat kepada kebaikan hidup dan matinya.."
(Kawan.. membaca kisah ini ada yang bergerak dihatiku, rasanya seperti dihadapkan pada sebuah cermin dan diminta berkaca tentang kesungguhan.. Sudahkah ia ada dalam hati kita?)