Minggu, 07 Februari 2016

Cara Mengunjungi Rosul

Sayyidi Habib Umar Bin Hafidz:
Cara terbaik dan termudah untuk datang mengunjungi / berziarah pada Rasulullah ﷺ adalah memberikan salam kepada beliau dalam sholat kita (saat duduk tasyahud), "assalamu ALAIKA Ayyuhan Nabiyyi".,
Beliau Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam akan menjawab salam kita (beliau bersabda,"Allah
akan mengembalikan ruhku (didlm kubur) untuk menjawab setiap salam yg ditujukan padaku")..

Allahumma sholli alaa Sayyidina Muhammad wa alaa aali Sayyidima Muhammad

PERLU DIPERHATIKAN BAGI ORANG YANG HOBBY BERAKTIVITAS DI DALAM WC

PERLU DIPERHATIKAN BAGI ORANG YANG HOBBY BERAKTIVITAS DI DALAM WC
فائدة]: ورد أن البصاق على الخارج من الشخص يورث الوسواس وصفرة الأسنان ويبتلى فاعله بالدم، والسواك حال الخلاء يورث النسيان والعمى، وطول القعود فيه يورث وجع الكبد والبواسير، والامتخاط يورث الصمم والهم، وتحريك الخاتم يأوي إليه الشيطان، والتكلم بلا ضرورة يورث المقت، وقتل القمل يبيت معه الشيطان أربعين ليلة ينسيه ذكر الله
(Faidah)
Sesungguhnya meludahi kotoran yang dikeluarkan seseorang akan menimbulkan penyakit was-was (ragu-ragu) dan kuningnya gigi dan pelakunya akan mendapatkan cobaan suatu penyakit (darah)
orang yang siwakan (sikat gigi) di wc beresiko menjadi pelupa dan buta (hati)
orang terlalu lama duduk diwc menyebebkan sakit liver dan beser.
sisi (mengeluarkan Ingus dari hidung) didalam wc menyebabkan tuli (pendengaran berkurang) dan kesusahan.
Menggerak-gerakkan cincin didalam wc,menyebabkan didatangi syetan
berbicara didalam Wc selain dhorurot menyebabkan murkanNya Alloh
membunuh kutu didalam wc menyebabkan datangnya syetan tiap malam selama 40 malam yang akan mengganggu orang tersebut agar tak dzkir (lupa) pada Alloh.
[ Ket : Bughyah Al Mustarsyidiin Hal 26 ].

Jenazah Yang Banyak Diziarahi Malaikat

copas 7 februari 2016
Adalah Tsa'labah yang merupakan salah satu sahabat Rasulullah SAW ang sangat setia dan beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Suatu ketika karena ketidaksengajaa
nya melakukan dosa, ia sangat menyesal begitu dalam hingga ketakukannya kepada Allah SWT kan azab yan akan ia terima nantinya.
Karena ketaktannya tersebut, Tsa'labah sakit hingga meninggal dunia.
Subhanallah...
Si pemakaman sahabat Nabi yang setia ini banyak malaikat yang iut menziarahi Tsa'labah.
Tsa'labah Sakit.
Setelah sekian lama berjuang bersama nabi, terdengar kabar bahwa Tsa'labah sedang sakit keras.
Mendengar hal itu sahabat Nabi yang lain bernama Salman menghadap Rasulullah SAW dan berkata,
"Wahai Rasulullah, msihkah engkau ingat dengan Tsa'labah? Dia sedang sakit keras."
Rasulullah SAW pun segera datang menemui Tsa'labah.
Rasulullah SAW meletakkan tangan kanannya di kepala Tsa'labah, kemudian meletakkan kepala Tsa'labah dipangkuannya.
Akan tetapi apa yang terjadi, Tsa'labah segera saja menyingkirkan kepalanya dari pangkuan beliau.
"Mengapa engkau singkirkan kepalamu dari pengkuanku?" tanya Baginda Rasul.
"Karena aku penuh dengan dosa, tgak layak dipangkau oleh UtusanNya yang mulia ini," jawab Tsa'labah.
"Apa yang engkau rasakan?" tanya Nabi lagi.
"Aku seperti dikerubuti semut pada tulang, daging dan kulitku," jawab Tsa'labah.
"Lalu apa yang engkau inginkan?" tanya Rasul SAW.
"Ampunan Tuhanku," jawab Tsa'labah.
Maka turunlah Malaikat Jibril as dan berkata,
"Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam untukmu dan berfirman kepadamu, "Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunan sepenuh itu pula."
Meninggal Dunia.
Maka segera saja Rasulullah SAW memberitahukan hal tu kepada Tsa'labah. Begitu mendengar berita itu, terpekiklah Tsa'labah dan langsung meninggal dunia.
Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan agar Tsa'labah segera dimandikan dan dikafani dan dishalati.
Ketika selesai dishalati, Rasulullah SAW berjalan sambil berjingkat-jingkat seakan menghindari sesuatu agar tidak tertabrak.
Setelah selesai pemakaman, para sahabat bertanya,
"Wahai Rasulullah, kami lihat engkau berjalan sambil berjingkat-jingkat, ada apa gerangan?"
Rasulullah SAW bersabda,
"Demi Zat yang mengutus aku sebagai seorang nabi yang sebenarnya, karena aku lihat begitu banyaknya malaikat yang turut menziarahi Tsa'labah."
Apakah Dosa yang Dilakukan Tsa'labah.
Astaghfirullah...
Sebenarnya dan ternyata kesalahan yang dilakukannya hanya karena beliau melihat seorang wanita Anshar sedang mandi dalam perjalannya menuju rumahnya. Tsa'labah ini takutnya bukan main, kepada Allah SW dan kepada Rasulullah SAW yang jadi panutannya.
Karena kejadian itu, Tsa'labah sangat takut sekali hingga lari.
Subhanallah...

Sabtu, 12 Desember 2015

ROMO KH ABDUL HAMID ABDULLAH PASURUAN

Madras Ribath menambahkan 5 foto baru.

11 Desember 2015
ROMO KH ABDUL HAMID ABDULLAH PASURUAN
KH. Abdul hamid Lahir pada tahun 1333 H, di Desa Sumber Girang, Lasem, Rembang, Jawa Tengah.Wafat 25 Desember 1985.Pendidikan: Pesantren Talangsari, ]ember; Pesantren Kasingan, Rembang,Jateng; Pesantren Termas, Pacitan, Jatim. Pengabdian: pengasuhPesantren Salafiyah, PasuruanKesabarannya memang diakui tidak hanya oleh para santri, tapi juga olehkeluarga dan masyarakat serta umat islam yang pernah mengenalnya.Sangat jarang ia marah, baik kepada santri maupun kepada anak danistrinya. Kesabaran Kiai Hamid di hari tua, khususnya setelah menikah,sebenarnya kontras dengan sifat kerasnya di masa muda.“Kiai Hamid dulu sangat keras,” kata Kiai Hasan Abdillah. Kiai Hamidlahir di Sumber Girang, sebuah desa di Lasem, Rembang, Jawa Tengah,pada tahun 1333 H. Ia adalah anak ketiga dari tujuh belas bersaudara,lima di antaranya saudara seibu. Kini, di antara ke 12 saudarakandungnya, tinggal dua orang yang masih hidup, yaitu Kiai Abdur Rahim,Lasem, dan Halimah. Sedang dari lima saudara seibunya, tiga orang masihhidup, yaitu Marhamah, Maimanah dan Nashriyah, ketiganya di Pasuruan.Hamid dibesarkan di tengah keluarga santri. Ayahnya, Kiai umar, adaiahseorang ulama di Lasem, dan ibunya adalah anak Kiai Shiddiq, juga ulamadi Lasem dan meninggal di Jember, Jawa Timur.Kiai Shiddiq adalah ayah KH. Machfudz Shiddiq, tokoh NU, dan KH. AhmadShiddiq, mantan Ro’is Am NU. Keluarga Hamid memang memiliki keterikatanyang sangat kuat dengan dunia pesantren. Sebagaimana saudara-saudaranyayang lain, Hamid sejak kecil dipersiapkan untuk menjadi kiai. Anakkeempat itu mula-mula belajar membaca al-Quran dari ayahnya. Pada umursembilan tahun, ayahnya mulai mengajarinya ilmu fiqh dasar.Tiga tahun kemudian, cucu kesayangan itu mulai pisah dari orangtua,untuk menimba ilmu di pesantren kakeknya, KH. Shiddiq, di Talangsari,Jember, Jawa Timur. Konon, demikian penuturan Kiai Hasan Abdillah, KiaiHamid sangat disayang baik oleh ayah maupun kakeknya. Semasih kecil,sudah tampak tanda-tanda bahwa ia bakal menjadi wali dan ulama besar.“Pada usia enam tahun, ia sudah bertemu dengan Rasulullah,” katanya.Dalam kepercayaanyang berkembang di kalangan warga NU, khususnya kaumsufi, Rasulullah walau telah wafat sekali waktu menemui orang-orangtertentu, khususnya para wali. Bukan dalam mimpi saja, tapi secaranyata.Pertemuan dengan Rasul menjadi semacam legitimasi bagi kewalianseseorang. Kiai Hamid mulai mengaji fiqh dari ayahnya dan para ulama diLasem. Pada usia 12 tahun, ia mulai berkelana. Mula-mula ia belajar dipesantren kakeknya, KH. Shiddiq, di Talangsari, Jember. Tiga tahunkemudian ia diajak kakeknya untuk pergi haji yang pertama kali bersamakeluarga, paman-paman serta bibi-bibinya. Tak lama kemudian dia pindahke pesantren di Kasingan, Rembang. Di desa itu dan desa-desasekitarnya, ia belajar fiqh, hadits, tafsir dan lain lain. Pada usia 18tahun, ia pindah lagi ke Termas, Pacitan, Jawa Timur.Konon, seperti dituturkan anak bungsunya yang kini menggantikannyasebagai pengasuh Pesantren Salafiyah, H. Idris, “Pesantren itu sudahcukup maju untuk ukuran zamannya, dengan administrasi yang cukup rapi.Pesantren yang diasuh Kiai Dimyathi itu telah melahirkan banyak ulamaterkemuka, antara lain KH Ali Ma’shum, mantan Ro’is Am NU.” MenurutIdris, inilah pesantren yang telah banyak berperan dalam pembentukanbobot keilmuan Hamid. Di sini ia juga belajar berbagai ilmu keislaman.Sepulang dari pesantren itu, ia tinggaldi Pasuruan, bersamaorangtuanya. Di sini pun semangat keilmuannya tak pernah Padam. Dengantekun, setiap hari ia mengikuti pengajian Habib Ja’far, ulama besar diPasuruan saat itu, tentang ilmu tasawwuf.Menjadi BlantikHamid menikah pada usia 22 tahun dengan sepupunya sendiri, Nyai H.Nafisah, putri KH Ahmad Qusyairi. Pasangan ini dikarunia enam anak,satu di antaranya putri. Kini tinggal tiga orang yang masih hidup,yaitu H. Nu’man, H. Nasikh dan H. Idris.Hamid menjalani masa-masa awal kehidupan berkeluarganya tidak denganmudah. Selama beberapa tahun ia harus hidup bersama mertuanya di rumahyang jauh dari mewah. Untuk menghidupi keluarganya, tiap hari iamengayuh sepeda sejauh 30 km pulang pergi, sebagai blantik (broker)sepeda. Sebab, kata ldris, pasar sepeda waktu itu ada di desa Porong,Pasuruan, 30 km ke arah barat Kotamadya Pasuruan.Kesabarannya bersama juga diuji. Hasan Abdillah menuturkan, Nafisahyang dikawinkan orangtuanya selama dua tahun tidak patut (tidakmauakur). Namun ia menghadapinya dengan tabah. Kematian bayi pertama,Anas, telah mengantar mendung di rumah keluarga muda itu.Terutama bagi sang istri Nafisah yang begitu gundah, sehingga Hamidmerasa perlu mengajakistrinya itu ke Bali, sebagai pelipur lara.Sekali lagi Nafisah dirundung kesusahan yang amat sangat setelahbayinya yang kedua, Zainab, meninggal dunia pula, padahal umurnya barubeberapa bulan. Lagi-lagi kiai yang bijak itu membawanya bertamasya ketempat lain. KH. Hasan Abdillah, adik istri Kiai Hamid, menuturkan,seperti layaknya keluarga, Kiai Hamid pernah tidak disapa oleh istrinyaselama empat tahun.Tapi, tak pernah sekalipun terdengar keluhan darinya. Bahkan sedemikianrupa ia dapat menutupinya sehingga tak ada orang lain yangmengetanuinya. “Uwong tuo kapan ndak digudo karo anak Utowo keluarga,ndak endang munggah derajate (Orangtua kalau tidak pernah mendapatcobaan dari anak atau keluarga, ia tidak lekas naik derajatnya)”,katanya suatu kali mengenai ulah seorang anaknya yang agak merepotkan.Kesabaran beliau juga diterapkan dalam mendidik anak-anaknya. MenutIdris, tidak pernah mendapat marah, apalagi pukulan dari ayahnya.Menurut ldris, ayahnya lebih banyak memberikan pendidikan lewatketeladanan. Nasihat sangat jarang diberikan. Akan tetapi, untukhal-hal yang sangat prinsip, shalat misalnya, Hamid sangat tegas.Merupakan keharusan bagi anak-anaknya untuk bangun pada saat fajarmenyingsing, guna menunaikan shalat subuh, meski seringkali orang lainyang disuruh membangunkan mereka,Hamid juga memberi pengajaran membacaal-Quran dan fiqih pada anak-anaknya di masa kecil. Namun, begitumereka menginjak remaja, Hamid lebih suka menyerahkan anak-anaknya kepesantren lain.Bukan hanya kepada anak-anak, tapi juga istrinya, Hamid memberipengajaran. Waktunya tidak pasti. Kitab yang diajarkan pun tidak pasti.Bahkan, ia mengajar tidak secara berurutan dari bab satu ke babberikutnya. Pendeknya, ia seperti asal comot kitab, lalu dibuka, dandiajarkan pada istrinya. Dan lebih banyak, kata Idris, yang diajarkanadalah kitab-kitab mengenai akhlak, seperti Bidayah al-Hidayah karyaImam Ghazali, “Tampaknya yang lebih ditekankan adalah amalan, dan bukanilmunya itu sendiri,” jelasnya.Amalan dari kitab itu pula yang ditekankan Kiai Hamid di Pesantrensalafiyah. Kalau pesantren-pesantren tertentu dikenal denganspesialisasinya dalam bidang-bidang ilmu tertentu - misainya alat(gramatika bahasa Arab) atau fiqh, maka salafiyah menonjol sebagaisuatu lembaga untuk mencetak perilaku seorang santri yang baik.Di sini, Kiai Hamid mewajibkan para santrinya shalat berjamaah limawaktu. Sementara jadwal kegiatan pesantren lebih banyak diisi dengankegiatan wirid yang hampir memenuhi jam aktif. Semuanya harus diikutioleh seluruh santri. Kiai Hamid sendiri, tidak banyak mengajar, kecualikepada santri-santri tertentu yang dipilihnya sendiri. Selain itu,khususnya di masa-masa akhir kehidupannya, ia hanya mengajar seminggusekali, untuk umum.Mushalla pesantren dan pelatarannya setiap Ahad selalu penuh olehpengunjung untuk mengikuti pengajian selepas salat subuh ini. Merekatidak hanya datang dari Pasuruan, tapi juga kota-kota Malang, Jember,bahkan Banyuwangi, termasuk Walikota Malang waktu itu. Yang diajarkanadalah kitab Bidayah al-Hidayah karya al-Ghazali. Konon, dalam setiappengajian, ia hanya membaca beberapa baris dari kitab itu.Selebihnya adalah cerita-cerita tentang ulama-ulama masa lalu sebagaiteladan. Tak jarang, air matanya mengucur deras ketika bercerita.Disuguhi Kulit Roti Kiai Hamid memang sosok ulama sufi, pengagum imamAl-Ghazali dengan kitab-kitabnya lhya ‘Ulum ad-Din dan Bidayahal-Hidayah. Tapi, corak kesufian KiaiHamid bukanlah yang menolak duniasama sekali. Ia, konon, memang selalu menolak diberi mobil Mercedez,tapi ia mau menumpanginya. Bangunan rumah dan perabotan-perabotannyacukup baik, meski tidak terkesan mewah.Ia suka berpakaian dan bersorban yang serba putih. Cara berpakaianmaupun penampilannya selalu terlihat rapi, tidak kedodoran. Pilihanpakaian yang dipakai juga tidak bisa dibilang berkualitas rendah.“Berpakaianlah yang rapi dan baik. Biar saja kamu di sangka orang kaya.Siapa tahu anggapan itu merupakan doa bagimu,” katanya suatu kalikepada seorang santrinya. Namun, Kiai Hamid bukanlah orang yang sukamengumbar nafsu. Justru, kata idris, ia selalu berusaha melawan nafsu.Hasan Abdillah bercerita, suatu kali Hamid berniat untuk mengekangnafsunya dengan tidakmakan nasi (tirakat). Tetapi, istrinya tidak tahuitu. Kepadanya lalu disuguhkan roti. Untuk menyenangkannya, Hamidmemakan roti itu, tapi tidak semuanya, melainkan kulitnya saja. “O,rupanya dia suka kulit roti,” pikir istrinya. Esoknya ia membeli rotidalam jumlah yang cukup besar, lalu menyuguhkan kepada suaminyakulitnya saja. Kiai Hamid tertawa. “Aku bukan penggemar kulit roti.Kalau aku memakannya kemarin, itu karena aku bertirakat,”ujarnya.Konon, berkali-kali Kiai Hamid ditawari mobil Mercedez oleh H. AbdulHamid, orang kaya di Malang. Tapi, ia selalu menolaknya dengan halus.Dan untuk tidak membuatnya kecewa, Hamid mengatakan, ia akanmenghubunginya sewaktu-waktu membutuhkan mobil itu. Kiai Hamid memangselalu berusaha untuk tidak mengecewakan orang lain, suatu sikap yangterbentuk dari ajaran idkhalus surur (menyenangkan orang lain) sepertidianjurkan Nabi.Misalnya, jika bertamu dan sedang berpuasa sunnah, ia selalu dapatmenyembunyikannya kepada tuan rumah, sehingga ia tidak merasa kecewa.Selain itu, ia selalu mendatangi undangan, di manapun dan olehsiapapun.Selain terbentuk oleh ajaran idkhalus surur, sikap sosial Kiai Hamidterbentuk oleh suatu ajaran (yang dipahami secara sederhana) mengenaikepedulian sosial islam terhadap kaum dlu’afa yang diwujudkan dalambentuk pemberian sedekah. Memang karikaturis - meminjam istilahAbdurrahman Wahid tentang sifatnya.Tapi, Kiai Hamid memang bukan seorang ahli ekonomi yang berpikir secaralebih makro. Walaubegitu, kita dapat memperkirakan, sikap sosial KiaiHamid bukan hanya sekadar refleksi dari motivasi keagamaan yang“egoistis”, dalam arti hanya untuk mendapat pahala, dan kemudian merasalepas dari kewajiban. Kita mungkin dapatmelihat, betapa ajaran sosialislam itu sudah membentuk tanggung jawab sosial dalam dirinya meskitidak tuntas.Ajaran Islam, tanggung jawab sosial mula-mula harus diterapkan kepadakeluarga terdekat, kemudian tetangga paling dekat dan seterusnya.Urut-urutan prioritas demikian tampak pada Kiai Hamid. Kepada tetanggaterdekat yang tidak mampu, konon ia juga memberikan bantuannya secararutin, terutama bila mereka sedang mempunyai hajat, apakah itu untukmengawinkan atau mengkhitan anaknya.H. Misykat yang mengabdi padanya hingga ia meninggal, bercerita bahwabila ada tetangga yang sedang punya hajat, Kiai Hamid memberi uang RP.10.000 plus 10 kg. beras. Islam mengajarkan, hari raya merupakan haridi mana umat Islam dianjurkan bergembira sebagai rasa syukur setelahmenunaikan lbadah puasa sebulan penuh. Menjelang hari raya, sebagailayaknya seorang ulama, Kiai Hamid tidak menerima hadiah dan zakatfitri.Tetapi, ia juga sibuk membaginya kembali kepada handai tolan dantetangga terdekat. Menurut H. Misykat, jumlah hadiah - berupa beras dansarung - untuk tetangga dekat setiap tahun tergantung yang dipunyainyadari pemberian orang lain. Tapi yang pasti, jumlahnya tak pernah kurangdari 313 buah. Ini adalah jumlah para pengikut perang Badr (pecahdibulan Ramadhan antara Nabi dan orang Kafir). Penelusuran lebih jauhakan menyimpulkan, perhatian terhadap orang lain merupakan ciri darisikap sosialnya yang kuat.Bahwa semua tindakannya itu tumbuh dari sikappenuh perhatian yangtinggi terhadap orang lain. Sehingga, kata H. M. Hadi, bekas santri danadik iparnya, “Semua orang merasa paling disayang oleh Kiai Hamid.”Setiap pagi, mulai pukul 03.00, ia suka berjalan kaki berkeliling keMushalla-mushalla hingga sejauh 1-2 km. untuk membangunkan orang-orang- biasanya anak-anak muda - yang tidur di tempat-tempat ibadah itu. Disamping itu, beberapa rumah tak luput dari perhatiannya sehinggamembuat tuan rumah tergopoh-gopoh demi mengetahui bahwaorang yangmengetuk pintu menjelang subuh itu adalah Kiai Hamid yang sangatdiseganinya. Sikapnya yang kebapakan itulah yang membuat semua orangmengenalnya secara dekat merasa kehilangan ketika ia wafat.Ia selalu dengan penuh perhatian mendengarkan keluhan dan masalah oranglain, dan terkadang melalui perlambang-perlambang, memberi pemecahanterhadapnya. Tak cuma itu.Ia sering memaksa orang untuk berceritamengenai yang menjadi masalahnya. “Ceritakan kepada saya apa yangmembuatmu gundah,” desaknya kepada H. A. Shobih Ubaid, meski telahberkali-kali mengatakan tidak ada apa-apa. Dan, akhirnya setelahdibimbing ke kamar di rumahnya, Shobih dengan menangis menceritakanmasalah keluarga yang selama ini mengganjal di hatinya.Di saat lain, orang lain terpaksa bercerita bahwa ia masih kekuranganuang menghadapi perkawinan anaknya, setelah didesak oleh Kiai Hamid.Kiai Hamid lalu memberinya uang Rp 200.000. Pemberian uang untukmaksud-maksudbaik ini memang sudah bukan rahasia lagi. Selain seringdihajikan orang lain, sudah puluhanpula orang yang telah naik hajiatas biayanya, baik penuh maupun sebagiannya saja.Lebih dari itu, tak kurang 300 masjid yang telah berdiri ataudirenovasi atas prakarsa serta topangan biayanya. Menurut H. Misykat,kegiatanseperti ini kian menggebu menjelang ia wafat. Iamemprakarsairenovasi terhadap beberapa mushalla di dekat rumahnya yang selama initak pernah terjamah perbaikan. Untuk itu, di samping mengeluarkan uangdari kantongnya sendiri, ia memberi wewenang kepada masing-masingpanitia untuk mempergunakan namanya dalam mencari sumbangan.Kepeloporan, kebapakan dan sikap sosialnya yang dicirikan dengankomitmen Idkhalus surur dan kepedulian sosial dalam bentuknva yangsederhana dengan corak religius yang kuat merupakan watakkepemimpinannya. Tapi, lebih dari itu, kepemimpinan yang tidakmenonjolkan diri, dan dalam banyak hal, bahkan berusaha menyembunyikandiri, ternyata cukup efektif dalam kasus Kiai Hamid. Kiai Hamid yangsuaranya begitu lirih itu tidak pernah berpidato di depan umum: Tapi disitulah, khususnya untuk masyarakat Pasuruan dan sebagian besar JawaTimur yang sudah terlanjurmengaguminya itu, terletak kekuatan KiaiHamid.Konon, kepemimpinan Kiai Hamid sudah mulai tampak selama menuntut ilmudi Pesantren Termas. Ia sudah berganti nama sebanyak dua kali. Ia lahirdengan nama Mu’thi, lalu berganti dengan nama Abdul Hamid setelah hajiyang pertama. Kemudian, tanpa sengaja, mertuanya, KH AhmadQusyairi,memanggilnya dengan Hamid saja. “Nama saya memang Hamid saja, Bah(Ayah),” katanya, seperti tidak ingin mengecewakan mertuanya itu.Diantara karyanya, antara lain, Nadzam Sulam Taufiq, yaitu menyairkankitab terkenal di pondok pesantren, Sulam Taufiq. Sebuah kitab yangberisi akidah, syari’ah, akhlaq dan tasawuf. Sedangkan Thariqah beliauadalah Syadziliyah. Menurut beberapa sumber ada yangmengatakanmengambil thariqah dari KH. Mustaqiem Husein, ada sumber lainmenyebutkan dari Syeikh Abdurrazaq Termas.
Kiai Hamid, seperti para wali lainnya, adalah tiang penyangga masyarakatnya. Tidak hanya di Pasuruan tapi juga di tempat-tempat lain. Beliau adalah sokoguru moralitas masyarakatnya. Beliau adalah cermin (untuk melihat borok-borok diri), beliau adalah teladan, beliau adalah panutan. Beliau dipuja, di mana-mana dirubung orang, ke mana-mana dikejar orang (walaupun beliau sendiri tidak suka, bahkan marah kalau ada yang mengkultuskan beliau).Bagaimanapun beliau manusia biasa (Rasulullah pun manusiabiasa), yang harus merasakan kematian. Sabtu 9 Rabiul Awal 1403 H, bertepatan dengan 25 Desember 1982 M, menjadi awal berkabung panjang bagi msyarakat muslim Pasuruan, dan muslim di tempat lain. Hari itu, saat ayam belum berkokok, hujan tangis memecah kesunyian di rumah dalam kompleks Pesantren Salafiyah. Setelah jatuh anfal beberapa hari sebelumnya dan sempat dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya karena penyakit jantung yang akut, beliau menghembuskan nafas terakhir. Inna lillahi wa inna lillahi raji’un.Umat pun menangis. Pasuruan seakan terhenti, bisu, oleh duka yang dalam. Puluhan, bahkan ratusan ribu orang berduyun-duyun membanjiri Pasuruan. Memenuhi relung-relung Masjid Agung Al-Anwar dan alun-alun kota, memadati gang-gang dan ruas-ruas jalan yang membentang di depannya. Mereka, dalam gerak serentak, di bawah komandoseorang imam, KH. Ali Ma’shum Jogjakarta, mengangkat tangan “Allahu Akbar” empat kali dalam salat janazah yang yg dihadiri ribuan kaum muslimiin.
Semoga Allah meridloi beliau dan mengumpulkan kita bersama beliau dibawah bendera baginda Nabi Muhammad saw. Amin allahumma amin....
Disarikan dari berbagai sumber.
Smg bermanfaat.

Jumat, 11 Desember 2015

Biografi Singkat as-Sayyid Ja'far al-Barzanji

Madras Ribath
11 Desember 2015
Biografi Singkat as-Sayyid Ja'far al-Barzanji
(Penyusun Maulid Al Barzanji)

As-Sayyid Ja’far bin Sayyid Hasan bin Sayyid Abdul Karim bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Rasul al-Barzanji adalah seorang ulama besar keturunan Nabi Muhammad Saw. dari keluarga Saadah al-Barzanji yang masyhur berasal dari Barzanj di Iraq. Beliau dilahirkan di Kota Madinah al-Munawwarah pada tahun 1126 H.
Leluhur Sayyid Ja'far semuanya merupakan ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan `amal, keutamaan dan kesholehan. Prof. Dr. al-Muhaddits al-‘Alim al-‘Allamah as-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Abbas al-Maliki dalam Haul Ihtifaal bi Dzikra al-Maulid an-Nabawiy asy-Syarif menulis pada halaman 99:
Al-‘Allaamah al-Muhaddits al-Musnid as-Sayyid Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim al-Barzanji adalah Mufti Syafi’iyyah di Kota Madinah al-Munawwarah. Terjadi perselisihan tentang tahun kewafatannya. Sebagian ulama menyebutkan bahwa Sayyid Ja’far meninggal pada tahun 1177 H.
Al-Imam az-Zubaidi dalam al-Mu'jam al-Mukhtash menuliskan bahwa beliau wafat tahun 1184 H, dimana Imam az-Zubaidi pernah berjumpa dengan beliau dan menghadiri majlis pengajiannya di Masjid Nabawi yang mulia.
Beliau adalah pengarang kitab maulid yang masyhur dan terkenal dengan nama Maulid al-Barzanji. Sebagian ulama mengatakan bahwa nama karangannya tersebut adalah ‘Iqd al-Jauhar fi Maulid an-Nabiyyi al-Azhar. Maulid karangan beliau ini adalah diantara kitab maulid yang paling populer dan paling luas tersebar ke pelosok negeri 'Arab dan Islam, baik di Timur maupun di Barat. Bahkan banyak dari mereka yang menghafalnya.
Kandungannya merupakan khulashah (ringkasan) Sirah Nabawiyyah yang meliputi kisah kelahiran Rasulullah Saw., diutusnya beliu Saw. sebagai Rasul, hijrah, akhlak, peperangan hingga kewafatan beliau Rasulullah Saw.
Kitab Maulid al-Barzanji ini telah disyarahi oleh al-‘Allamah al-Faqih asy-Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad yang terkenal dengan panggilan Ba’ilisy dengan kitab syarah yang dinamakan al-Qaul al-Munji 'ala Maulid al-Barzanji yang telah berulang kali dicetak di Mesir. (Beliau Syekh Ba`ilisy adalah seorang ulama besar jebolan al-Azhar asy-Syarif, bermazhab Maliki lagi Asy`ari dan menjalankan Thoriqah asy-Syadziliyya
h. Beliau lahir pada tahun 1217 H/1802 M dan wafat pada tahun 1299 H/1882 M. Karyanya antara lain adalah; Hidayat al-Murid li 'Aqidat Ahl at-Tauhid, Syarh al-'Aqa’id al-Kubra li as-Sanusi, Hasyiyah 'ala Syarhi ash-Shoghir li ad-Dardir, Minhu al-Jalil 'ala Mukhtashar Khalil dan Hidayat as-Salik ila Aqrab al-Masalik fi Furu` al-Fiqh al-Maliki).
Selain Syekh Ba’ilisy, ulama kita kelahiran Banten Pulau Jawa, yang terkenal sebagai ulama dan penulis yang produktif dengan banyak karangannya yaitu Punggawa Ulama Hijaz, an-Nawawi ats-Tsani, Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi turut menulis syarah dari kitab Maulid al-Barzanji yang diberi judul Madarij ash-Shu’ud ila Iktisa’ al-Buruud.
Begitu juga dari salah satu cucu Sayyid Ja'far al-Barzanji yang bernama sama dengan kakeknya yaitu Sayyid Ja’far bin Sayyid Isma’il bin Sayyid Zainal ‘Abidin bin Sayyid Muhammad al-Hadi bin Sayyid Zain al-Barzanji, telah menulis syarah dari kitab Maulid al-Barzanji tersebut yang diberi judul al-Kaukab al-Anwar ‘ala ‘Iqd al-Jauhar fi Maulid an-Nabiy al-Azhar. Sayyid Ja'far ini juga adalah seorang ulama besar keluaran al-Azhar asy-Syarif. Beliau juga merupakan seorang Mufti Syafi`iyyah. Karangan-karangan beliau banyak, diantaranya; Syawahid al-Ghufran ‘ala Jaliy al-Ahzan fi Fadhail Ramadhan, Mashabih al-Ghurar ‘ala Jaliy al-Kadar dan Taj al-Ibtihaj ‘ala Dhau’ al-Wahhaj fi Isra’ wa al-Mi’raj. Beliau juga telah menulis sebuah manaqib yang menceritakan perjalanan hidup dan ketinggian kakeknya Sayyid Ja'far al-Barzanji dengan judul ar-Raudh al-‘Athar fi Manaqib as-Sayyid Ja’far.
Sayyid Ja'far al-Barzanji, selain dikenal sebagai mufti, beliau juga menjadi khatib di Masjid Nabawi dan mengajar di masjid yang mulia tersebut. Beliau terkenal bukan saja karena ilmu, akhlak dan takwanya, tapi juga dengan kekeramatan dan kemakbulan doanya. Penduduk Madinah sering meminta beliau berdoa untuk hujan pada musim-musim kemarau.
Diceritakan bahwa satu ketika di musim kemarau, di saat beliau sedang menyampaikan khutbah Jum’at, seseorang meminta beliau beristisqa’ (memohon hujan). Maka dalam khutbahnya itu, beliau pun berdoa memohon hujan, dengan serta merta doanya terkabul dan hujan terus turun dengan lebatnya hingga seminggu lamanya, persis sebagaimana yang pernah terjadi pada zaman Rasulullah Saw. Menyaksikan peristiwa tersebut, maka sebagian ulama pada zaman itu telah memuji beliau dengan bait-bait syair yang berbunyi:
“Dahulu al-Faruuq dengan al-‘Abbas beristisqa’ memohon hujan
Dan kami dengan Ja’far pula beristisqa’ memohon hujan
Maka yang demikian itu wasilah mereka kepada Tuhan
Dan ini wasilah kami seorang Imam yang ‘arif.”
Sayyid Ja'far al-Barzanji wafat di Kota Madinah dan dimakamkan di Jannatul Baqi’, tepatnya di sebelah bawah maqam nenek moyang beliau dari kalangan anak-anak perempuan Rasulullah Saw.
Sungguh karya-karya Sayyid Ja'far telah membawa umat untuk selalu mengingat Rasulullah Saw. Menjadikan umat lebih mencintai Rasulullah Saw. Menenggelamkan umat dalam lautan rindu kepada Rasulullah Saw. Setiap kali karangannya dibaca, sholawat dan salam selalu terlantunkan atas Baginda Nabi Agung Muhammad Saw.

Kegigihan Sayyid Ja’far dalam Menuntut Ilmu
Semasa kecilnya beliau telah belajar al-Quran dari Syeikh Ismail al-Yamani, dan belajar tajwid serta memperbaiki bacaan dengan Syeikh Yusof as-Su’idi dan Syeikh Syamsuddin al-Misri.
Diantara guru-guru beliau dalam ilmu agama dan syariat adalah:
• Sayyid Abdul Karim Haidar al-Barzanji
• Syeikh Yusuf al-Kurdi
• Sayyid Athiyatullah al-Hindi.
Beliau kemudian berhijrah dan menetap di Makkah selama lima tahun. Di sana beliau belajar kepada para ulama besar, diantaranya:
• Syeikh Athallah ibn Ahmad al-Azhari
• Syeikh Abdul Wahab ath-Thanthowi al-Ahmadi
• Syeikh Ahmad al-Asybuli
Beliau juga telah mendapatkan ijazah dari para ulama besar, diantaranya:
• Syeikh Muhammad ath-Thoyib al-Fasi
• Sayyid Muhammad ath-Thobari
• Syeikh Muhammad ibn Hasan al-‘Ajimi
• Sayyid Musthofa al-Bakri
• Syeikh Abdullah asy-Syubrawi al-Misri

Penguasaannya dalam Ilmu Agama
Beliau banyak menguasai cabang-cabang ilmu agama diantaranya ialah Shorof, Nahwu, Manthiq, Ma’ani, Bayan, Adab, Fiqh, Ushul Fiqh, Faraidh, Hisab, Ushuluddin, Hadits, Ushul Hadits, Tafsir, Hikmah, Handasah, ‘Arudh, Kalam, Lughat, Sirah, Qiraat, Suluk, Tasawwuf, Kutub Ahkam, Rijal, Mustholahul Hadits.

Karya-karya Beliau
Karangan beliau cukup banyak diantaranya adalah:
• Al-Birr al-‘Ajil bi Ijabat asy-Syeikh Muhammad al-Ghafil
• Jaliyat al-Kadr bi Asmai Ashshab Sayyid al-Malaik wa al-Basyar
• Jaliyat al-Kurb wa al-Ahadiyyin bi Asma’ Sayyid al-‘Ajam wa al-‘Arab fi Asma’ al-Badriyyin
• Al-Lujjainiy ad-Daniy fi Manaqib asy-Syeikh Abdil Qadir al-Jailaniy
• Ar-Raudh al-Mu’thar fi Maa Yuhaddi as-Sayyid Muhammad min al-Asy’al
• Asy-Syiqaq al-Atrijiyyah fi Manaqib al-Asyraf al-Barzanjiyyah
• Ath-Thawali’ al-As’adiyyah min al-Mathali’ al-Masyriqiyyah
• Al-‘Ariyn li Asma’ ash-Shabat al-Badriyyin
• Fath ar-Rahman ‘ala Ajwibat as-Sayyid Ramdhan
• Al-Faidh al-Lathif bi Ijabat Naib as-Sar’ asy-Syarif
• Nuhudh al-Laits li Jawab Abi al-Ghaits
• ‘Iqd al-Jauhar fi Maulid an-Nabiyyi al-Azhar (Maulid al-Barzanji).

Kemasyhuran Beliau
Beliau telah diakui banyak kalangan dan mendapat kedudukan yang dekat di sisi pembesar Makkah dan Madinah, serta para menteri Kerajaan Utsmaniah. Kemasyhuran dan kehebatan beliau telah menyebar ke seluruh pelosok dunia Islam. Karangan-karangan beliau telah diterima dan dipuji oleh para ulama yang sezaman denganya sehingga tersebarlah tulisan-tulisan beliau di kalangan para penuntut ilmu.

Sifat-sifat Beliau
Beliau mempunyai akhlak yang terpuji, jiwa yang bersih, sangat pemaaf dan pengampun, zuhud, amat berpegang dengan al-Quran dan as-Sunnah, wara’, banyak berdzikir, senantiasa bertafakkur, mendahului dalam berbuat kebajikan, gemar bersedekah, dan sangat pemurah.

Penutup
Dari biografi singkat Sayyid Ja’far Al-Barzanji di atas, jelaslah bagi kita bahwa beliau bukanlah orang biasa. Bahkan beliau menjabat sebagai Mufti Madinah al-Munawwarah cukup lama yang mana hal ini menunjukkan akan ketinggian ilmu beliau dan kesalehan beliau.

Refferensi
• Al-Kawakib al-Anwar Syarh al-Maulid an-Nabawiy, karangan Sayyid Ja’far ibn al-Barzanji (keturunan Sayyid Ja’far al-Barzanji) yang wafat pada tahun 1317 H/1899 M. Ditahqiq oleh Syeikh Nada Farj Darwisy, dan disimak oleh Institut Pengkajian Akademik Universitas al-Azhar, cetakan Markaz ibn al-Athar li at-Turats, halaman 647-650.
• Kasyf az-Zunun ‘an Asam al-Kutub wa al-Funun, karangan Haji Khalifah, cetakan Dar al-Fikr, Beirut, tahun 1999 M, bab jim “Ja’far”, jilid 5, halaman 211.
• Al-Asybah wa an-Nadzair, karangan al-Imam Jalaluddin as-Suyuthiy, cetakan ketiga Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, tahun 2005 M, jilid 2, halaman 225.
• Haul Ihtifaal bi Dzikra al-Maulid an-Nabawiy asy-Syarif, karangan Prof. Dr. al-Muhaddits al-‘Alim al-‘Allamah as-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Abbas al-Maliki, cetakan al-Fithrah, Surabaya, halaman 99.

Sanad Maulid Barzanji

Maulid Barzanji merupakan kitab yang memuji dan menceritakan kehidupan Rasulullah Saw., selalu dibaca dan dilantunkan orang ketika datangnya bulan Rabi`ul Awwal di berbagai daerah dan negara seperti Indonesia, Malaysia, Brunai, Singapura dan Thailand. Maulid Barzanji sangat terkenal dan populer di Asia Tenggara, bahkan di sebagian tempat Maulid Barzanji dibaca ketika acara perkawinan, acara khitanan, dan acara-acara lainnya.
Kitab Maulid Barzanji diserang dan diperangi oleh sebagian orang yang menganggap acara Maulid Nabi Muhammad Saw. adalah salah satu perbuatan bid`ah, tetapi permasalahan ini adalah masalah khilafiyah yang kebanyakkan umat islam berpegang teguh dengan bolehnya mengadakan Maulid Nabi selama acara tersebut tidak terdapat unsur atau hal-hal yang haram dan dilarang oleh Allah Swt. dan Nabi Saw.
Maulid Barzanji adalah karangan dari seorang ulama besar terkemuka di masa beliau, telah berhasil memberikan jasa dan peninggalan yang berharga bagi umat islam. Nama lengkap pengarang Barzanji adalah Sayyid Ja`far bin Sayyid Hasan bin Sayyid Abdul Karim bin Sayyid Muhammad bin Abdurrasul al-Barzanji al-Madani asy-Syafi`i.
Beliau dilahirkan di kota Madinah. Beliau berasal dari golongan ulama besar yang memiliki keilmuan yang tinggi, dan dari keturunan Rasulullah Saw. Beliau memiliki sifat yang soleh dan penyantun, suka menolong orang lain, rajin beribadah dan beramal soleh.
Syeikh Muhammad Khalil al-Muradi pengarang kitab Silku ad-Durar memuji beliau dengan ungkapan sebagai berikut: “Beliau seorang Syeikh yang mulia lagi alim, satu-satunya orang yang hebat di dalam segala bidang ilmu, Mufti madzhab Syafi`iyyah di kota suci Madinah.” Selanjutnya Syeikh Muhammad Khalil al-Muradi memuji lagi: “Beliau hebat di dalam berpidato dan membuat karangan, sehingga beliau menjadi seorang Imam dan Khatib Masjid Nabawi, dan beliau juga seorang tenaga pengajar di Masjid Nabawi. Menulis berbagai macam kitab yang bermanfa`at dan karangan yang indah.”
Beliau meninggal dunia pada tahun 1177 hijriyyah sebagaimana yang telah disebutkan di dalam kitab Silku ad-Durar. (Lihat dalam Silku ad-Durar fi A`yani al-Qarni ats-Tsani ‘Asyar juz 13 halaman 2 karangan Syeikh Muhammad Khalil al-Muradi al-Hanafi, terbitan Dar Sodir Bairut, cetakkan pertama tahun 1422-2001).

Sanad kepada Imam Ja`far al-Barzanji adalah, berkata al-Ustadz Muhammad Husni Ginting bin Muhammad Hayat Ginting al-Langkati: “Saya meriwayatkan kitab Maulid Barzanji dari Syeikh Saya al-Alim as-Syeikh Ahmad Damanhuri bin Arman al-Banteni (w. 1426 H), beliau meriwayatkan dari gurunya al-Allamah al-Muhaddits ast-Syeikh Umar Hamdan al-Mahrisi at-Tunisi al-Madani (w. 1368 H), beliau meriwayatkan dari al-Allamah Syeikh Sayyid Ahmad bin Ismail al-Barzanji Mufti madzhab Syafi`i di Madinah, beliau meriwayatkan dari ayahandanya Sayyid Ismail bin Sayyid Zainal Abidin al-Barzanji, beliau meriwayatkan dari ayahnya al-Allamah Sayyid Zainal Abidin bin Sayyid Muhammad Abdul Hadi al-Barzanji, beliau meriwayatkan dari ayahandanya al-Allamah Sayyid Muhammad Abdul Hadi al-Barzanji, beliau meriwayatkan dari pamannya al-Allamah al-Faqih Syeikh Sayyid Ja`far bin Sayyid Hasan bin Sayyid Abdul Karim al-Barzanji pengarang kitab Maulid al-Barzanji.”
Saya (al-Ustadz Muhammad Husni Ginting bin Muhammad Hayat Ginting al-Langkati) al-Faqir al-Langkati mengijazahkan sanad khusus ini bagi siapa saja yang ingin menerimanya, semoga berkat dan kita termasuk orang yang menyampaikan ilmu dan amanat kepada umat islam.

Zaqaziq, Syarqia Mesir 12 Rabi`ul Awwal 1432 H.

kalam syekh abu bakar bin Salim

syekh Abu Bakar bin Salim
فنوا عن جميع الكون طلابا حسنَه يغيبون عن كل السوى بوصاله
mereka hilang dari alam semesta, mencari kebaikan-Nya, menutup diri dari segalah sesuatu kecuali berhubungan dengan-Nya
----------
haul besok

Manaqib Al Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=504096699764449&id=361352827372171&refid=8&_ft_=qid.6226858755883024680%3Amf_story_key.-4257522471934034528
Manaqib Al Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf
Beliau adalah Al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad bin ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin ‘Umar bin Saggaf bin Muhammad bin ‘Umar bin Thoha Assegaf. dan terus bersambung nasabnya hingga sampai kepada Rasulullah SAW.
Beliau dilahirkan di kota Sewun, Hadramaut, pada bulan Jumadil Akhir Tahun 1331 H. Beliau dibesarkan oleh kedua orangtuanya yang sholeh sehingga sejak kecil beliau telah dihiasi dengan hidayah dan ketakwaan.
Ayah beliau, Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf, adalah seorang imam yang dihiasi dengan keindahan budi pekerti yang luhur ilmu yang luas dan amal yang soleh. Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi pernah berkata bahwa Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman adalah Imam Wadil Ahqof (Hadramaut).
Ibu beliau adalah As-Syarifah Alawiyah binti Al-Habib Ahmad bin Muhammad Aljufri. Beliau adalah seorang wanita yang sholihah dan suka pada kebajikan. Ketika ibu beliau sedang mengandung dan melahirkan bayi laki-laki, bayi tersebut diberi nama Abdul Qodir atas isyarat dari Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi, tetapi tidak lama kemudian bayi tersebut meniggal dunia. Ketika As-Syarifah Alawiyah melahirkan bayi laki-laki untuk yang kedua kalinya, Al-Habib Ali juga mengisyaratkan agar bayi tersebut diberi nama Abdul Qodir. Al-Habib Ali mengatakan bahwa bayi ini kelak akan menjadi orang yang mulia yang mengabdikan hidupnya untuk taat kepada Allah dan menjadi seorang yang
dihiasi dengan ilmu, amal dan ihsan.
As-Syarifah Alawiyah meninggal dunia pada tanggal 29 Rajab 1378 H bersamaan dengan hari wafatnya Al-Habib Salim bin Hafidh Bin Syekh
Abubakar bin Salim (kakek dari Al-Habib Umar Bin Hafidh). Sedangkan Al-Habib Ahmad (ayah dari Al-Habib Abdul Qodir) meninggal dunia padasore hari, Sabtu, tanggal 4 Muharram 1357 H, setelah menunaikan shalat ashar pada usia 79 tahun, sedangkan Al-Habib Abdul Qodir saat itu baru berusia 25 tahun.
Masa kecil beliau
Sejak kecil beliau tumbuh berkembang dalam lingkungan ilmu pengetahuan, ibadah dan akhlak yang tinggi yang ditanamkan dan sekaligus icontohkan oleh ayah beliau yang sholeh Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf. Dan memang demikianlah keadaan kebanyakan keluarga-keluarga Alawiyin di Hadramaut pada masa itu. Keadaan ini sangat mendukung para orangtua untuk mencetak kader-kader ulama dan shulaha’ (orang-orang baik) karena anak-anak disana pada masa itu selain dididik oleh orang tua, lingkungan juga ikut membentuk mereka.
Keikhlasan dan kebersihan hati menjadi hiasan penduduk disana kala itu. Mereka tidak terkontaminasi dengan budaya dan berbagai macam paham dari luar . Setiap anak meneladani ayahnya dan ayah meneladani kakeknya. Demikianlah seterusnya sehingga asror mereka terwariskan kepada anak cucunya.
Ketika usia Al-Habib Abdul Qodir sudah cukup dan telah tampak kesungguhan niat beliau dalam menuntut ilmu, maka beliau mulai mengikuti pendidikan di luar rumah, karena selama ini beliau hanya belajar dengan ayahnya. Pertama kali beliau mengenyam pendidikan di `Ulmah Thoha, yaitu sebuah pendidikan yang diadakan di masjid Toha yang didirikan oleh datuknya Al-Habib Thoha bin Umar Assagaf di kota Sewun. Adapun guru yang mengajar beliau di tempat tersebut adalah As-Syaikh Thoha bin Abdullah Bahmed. ‘Ulmah Thoha adalah sebuah lembaga pendidikan sederhana yang didirikan atas dasar takwa dan keridhoan Allah, oleh karena itu tempat tersebut telah banyak mencetak orang-orang besar dan tokoh-tokoh ulama pada zaman itu. Di tempat itulah Al-Habib Abdul Qodir bersama anak-anak sebayanya tekun mendalami ilmu qowaidul kitabah, qiroah dan lain-lain, sehingga menjadi kuat dasar-dasar pengetahuannya serta fasih lisannya.
Setelah beberapa waktu kemudian beliau keluar dari ‘Ulmah Thoha dan mencurahkan waktunya untuk lebih banyak duduk dan menimbah ilmu dariayahnya, sehingga tampak tanda-tanda kemuliaan pada diri beliau. Kemudian atas perintah ayahnya beliau melanjutkan pendidikannya di madrasah An-Nahdhoh Al-`ilmiyah di kota Sewun. Setelah itu, beliau belajar fiqih, tafsir dan sastra di Madrasah An-Nahdlatul Ilmiyah. Di perguruan ini pula beliau menghafal Al-Qur'an dan mempelajari Qiraah sab'ah ( tujuh jenis bacaan ) Al-Qur'an dari Syekh Hasan bin Abdullah Baraja, beliau juga membaca beberapa kitab langsung di bawah supervisi ayahandanya.
Sepeninggal ayahnya
Setelah ayah beliau, Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman, yang meninggal dunia pada tahun 1357 H, maka para masyayikh dan tokoh Alawiyyin saat
itu sepakat bahwa beliaulah penerus sang ayah, karena semua kebaikan yang ada pada diri Al-Habib Ahmad telah diwarisi oleh Al-Habib AbdulQodir. Saat itu beliau telah berusia 25 tahun. Semenjak itu, Al-Habib Abdul Qodir meneruskan apa-apa yang menjadi kebiasaan ayahnya.
Sebagaimana ayahnya, Al-Habib Abdul Qodir mengisi waktunya dengan belajar dan mengajar, serta menunaikan segala kewajiban. Beliau selalu mengumbar senyum kepada siapa saja yang ditemuinya. Beliau suka menerima tamu dan membantu yang lemah dengan kemampuan yang dimilikinya. Diterangkan dalam kitab At-Takhlis Asy-Syafi, bahwa rumahnya adalah tumpuan para tamu dan beliau tidak pernah membedakan tamu-tamunya. Hampir-hampir terkesan beliaulah satu-satunya orang di kota Sewun yang memuliakan tamu dan gemar membantu orang-orang yang lemah kala itu. Selain itu beliau juga selalu menjaga hubungan silaturrahmi.
Karena ketinggian akhlak beliau itulah, menjadikan semua mata tertuju kepada Al-Habib Abdul Qodir, sehingga banyak orang ingin menimba ilmu
darinya. Dimana saja beliau mengajar atau mengisi pengajian, tempat tersebut penuh sesak oleh para hadirin. Setiap apa-apa yang beliau ucapkan, selalu menyentuh hati para pendengarnya.
Di tengah-tengah kesibukannya, Al-Habib Abdul Qodir menyempatkan diri duduk dengan para orangtua, ulama dan para pendidik, untuk membicarakan berbagai macam hal, baik keilmuan ataupun yang lainnya, serta menjalin rasa kasih sayang di antara mereka.
Di rumah beliau terdapat sebuah perpustakaan yang lengkap dan semua kitab tersebut telah dibaca oleh Al-Habib Abdul Qodir di hadapan ayahnya. Semasa hidup ayah beliau, Al-Habib Ahmad, jika mendengar atau melihat sebuah kitab dan kitab tersebut tidak ada dalam perpustakaannya, maka Al-Habib Ahmad menyuruh putranya, Al-Habib Abdul Qodir, untuk membaca dan mencatatnya, dan kemudian disimpan diperpustakaannya itu.
Sebagaimana ayah beliau sewaktu mudanya, Al-Habib Abdul Qodir suka membaca buku-buku sastra, sehingga menjadikan beliau seorang yang pandai membuat syair.
Hijrahnya dari Hadramaut
Suatu saat terjadi perubahan negatif pada pemerintahan Yaman Selatan dimana mereka membuat kebijakan-kebijakan dan upaya untuk menghapus tradisi leluhur dan juga melakukan penekanan terhadap ulama. Para tokoh masyarakat diwajibkan melaporkan diri ke kepolisian 2 kali setiap hari saat pagi dan sore. Tidak sedikit dari mereka yang dibunuh. Kenyataan pahit ini mendorong banyak para tokoh ulama disana, di antaranya Al-Habib Abdul Qodir, untuk meninggalkan Yaman demi menyelamatkan agama dan budaya leluhurnya.
Dengan dibantu oleh seseorang yang dekat dengan pemerintahan, beliau mendapat izin untuk berhijrah ke kota Aden pada tahun 1393 H. Disana beliau mendapatkan sambutan yang luar biasa. Tampak kegembiraan masyarakat Aden dengan kedatangan beliau. Di tengah-tengah kesibukannya berdakwah dan menghadiri majlis-majlis di kota Aden, beliau berupaya untuk berhijrah dari Yaman. Dengan ridho dan pertolongan Allah SWT, sebulan setelah kedatangannya di kota Aden, beliau berangkat menuju Singapura.
Di bandara Singapura, beliau disambut oleh banyak orang dan para tokoh Alawiyin saat itu, di antaranya adalah Al-Habib Muhammad bin Salim Al-Atthas dan As-Sayyid Ali Ridho bin Abubakar bin Thoha Assaggaf. Berbagai majlis diselenggarakan untuk menyambut kedatangan Al-Habib Abdul Qodir. Bahkan rumah tempat beliau tinggal penuh sesak oleh tamu yang ingin mengambil berkah dan menimbah ilmu dari beliau.
Pada tahun 1393 H / 1973 M beliau memutuskan memperluas medan dakwahnya ke luar negeri. Maka beliau pun berdakwah sampai ke Singapura. Pada bulan Juli 1974 M/1393 H, Al-Habib Abdul Qodir meninggalkan Singapura menuju Jakarta. Di Indonesia beliau juga mendapat sambutan yang hangat dari para ulama dan masyarakat di Jakarta. Tokoh Alawiyin yang mendampingi kunjungan beliau di Jakarta antara lain As-Sayyid Salim bin Muhammad Al-Aidrus, Al-Habib Muhammad bin Umar Maulakheilah, Al-Habib Muhammad bin Ali Alhabsyi (Kwitang), As-Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Jawwas, As-Sayyid Abdurrahman bin Ahmad Assaggaf, Al-Ustadz Hadi bin Sa’id Jawwas, dan lain-lain. Al-Habib Abdul Qodir menghadiri majlis taklim Al-Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi yang diadakan setiap hari Minggu pagi di Kwitang dan berbagai majlis lainnya di Jakarta.
Pada tanggal 13 Jumadil Tsani 1393 H/Agustus 1974 M, Al-Habib Abdul Qodir berkunjung ke Surabaya. Di Surabaya beliau tinggal di rumah Al-Ustadz Ahmad bin Hasan Assaggaf di Jalan Sambas no. 3. Al-Ustadz Ahmad mengurus segala keperluan dan perjalanan Al-Habib Abdul Qodir ke berbagai kota di Jawa Timur. Selama Al-Habib Abdul Qodir di Surabaya, rumah Al-Ustadz Ahmad penuh dengan tamu yang datang dari berbagai kota. Al-Ustadz Ahmad melayani mereka dengan penuh sabar dan tulus, bahkan menyediakan kendaraan bagi para tetamu yang ingin ikut mengiringi perjalanan Al-Habib Abdul Qodir.
Di setiap tempat yang dikunjungi, Al-Habib Abdul Qodir tidak hanya berdakwah, namun menaruh perhatian besar pada keadaan kaum Alawiyin. Setiap kota yang dimasuki, yang pertama ditanyakan oleh beliau adalah bagaimana keadaan Alawiyyin. Jika ada yang sakit, beliau mengunjunginya. Yang faqir, beliau santuni. Yang berselisih, beliau damaikan. Demikianlah aktivitas beliau sepanjang hidupnya, dimana saja beliau berada hingga akhir hayatnya.
Pada tahun yang sama, Al-Habib Abdul Qodir berhijrah dari Indonesia menuju Hijaz. Berbondong-bondong khalayak melepas kepergian beliau dengan penuh kesedihan dan air mata. Mereka menginginkan Al-Habib Abdul Qodir tetap tinggal di Indonesia. Demikian dalam kesedihan mereka hingga Al-Habib Abdul Qodir menenangkan mereka dengan mengatakan bahwa beliau akan datang berkunjung kembali ke Indonesia setelah beliau berziarah dan mengungkapkan masalah yang dihadapinya kepada Nabi SAW di kota Madinah. Tak lama kemudian beliau juga sempat menunaikan ibadah haji ke Mekah.
Atas permintaan beberapa ulama di Tanah suci, beliau bermukim selama beberapa waktu di Mekah, Madinah dan Jeddah untuk mengasuh majlis taklim. Beliau juga sempat berdakwah ke Zanzibar, Lebanon , Syria dan Mesir. Tapi belakangan beliau menetap di Jeddah.
Setiap kali beliau menyampaikan tausiah, selalu ada hal yang menarik. Misalnya ketika memberikan tausiah dalam sebuah rauhah, pengajian, di
Jeddah pada 1411 H / 1990 M, " Yang banyak menimpa manusia pada zaman akhir ini ialah Futurul Himah ( kevakuman hasrat ) dalam mencapai kemuliaan di sisi Allah swt." Ujarnya.
Menurutnya, sesungguhnya himmah, kesungguhan hasrat, merupakan penuntun lahirnya taufik Ilahi, pertolongan Allah swt bagi hamba-Nya agar mampu melaksanakan ketaatan, sebagai pos bisyarah, kabar gembira. Jika seseorang memiliki keinginan, lalu bersungguh-sungguh mencapainya, segala kesulitan akan menjadi mudah. Allah swt pun akan menolong dengan maunah, pertolongan dan taufik-Nya.
Menurut Habib Abdul Qadir yang kini semakin melemah adalah kekuatan keimanan kita. " Kebanyakan orang sekarang merasa berat bangun malam, lebih suka bermalas-malasan, ini semua jelas akibat bujuk rayu setan." Katanya.
Guru-guru beliau
Al-Habib Abdul Qodir menimbah ilmu dari banyak guru. Setiap berkunjung ke suatu tempat, beliau menyempatkan diri untuk menggali ilmu dari
para ulama dan orang-orang sholeh di tempat tersebut. Di antara guru beliau adalah
• Habib Umar bin Hamid Assegaf
• Habib Umar bin Abdul Qadir Assegaf
• Habib Abdullah bin Alwi Al-Habsyi
• Habib Abdullah bin Idrus Alaydrus
• Habib Abdulbari bin Syekh Alaydrus
• Habib Alwi bin Abdullah bin Syahab
• Habib Muhammad bin Hadi Assegaf
• Habib Sholeh bin Mukhsin Al Hamid
• Habib Ja'far bin Ahmad AlAydrus
• Dan lain-lain
Murid-murid beliau
Di antara para murid beliau adalah Al-Habib Muhammad bin Abdullah Alhaddar, Al-Habib Zein bin Ibrahim Bin Sumaith, Al-Habib Salim bin Abdullah bin Umar Asy-Syathiry, Al-Habib Abubakar Al-’Adany bin Ali Al-Masyhur, As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki ِAl-Habib Abubakar bin Hasan Al-Atthas dan masih banyak lagi yang lainnya yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu.
Diantara Teman-teman beliau yang telah pergi mendahului beliau, Adalah, Al-Habib Ahmad Masyhur bin Thoha al-Haddad. Al-Habib ‘Abdurrahman bin Ahmad al-Kaf. Al-Habib Abu Bakar Atthas bin Abdullah al-Habsyi. Syeikh Umar Khatib.
Habib Abdul Qadir adalah seorang ulama dan dai yang menjalankan dakwahnya dengan penuh kebijaksanaan. Akhlaknya yang tinggi mampu menawan hati sesiapa saja, ilmu, wara’ dan akhlaknya menyebabkan beliau dikasihi dan dihormati. Kabarnya Buya Hamka pernah ziarah kepada beliau sewaktu di Jeddah, dan setelah berbincang dengan beliau, akhirnya Buya Hamka mengakui bahwa Baitun Nubuwwah Bani Zahra min Ali masih wujud dan berkesinambungan dalam darah para saadah Bani ‘Alawiy.
Beliau telah lama uzur. Dan sebelum Fajar hari Ahad, 19 Rabi ’al-Akhir 1431 H bersamaan 4 April 2010, beliau kembali ke Rahmatullah di Jeddah. Beliau menutup umur pada usia 100 tahun. Dan Dishalatkan di Masjidil Haram Makkah selepas shalat Isya, Ahad 4 April 2010.
Selamat jalan wahai Habib Abdul Qodir. Semoga keselamatan, kesejahtraan, rahmat Allah dan ridhoNya selalu menyertaimu. Semoga Allah SWT membalas semua pengorbananmu untuk Alawiyyin dan kaum muslimin.
Selamat Jalan Imam dan Khalifah para habaib di dunia.. Khalifah para habaib terus silih berganti dari generasi ke generasi mengemban beban luhur..
Smg Allah swt mengumpulkan kita bersama mereka ditelaga baginda Nabi Saw.
55 mnt · Publik